Tidak semua perjalanan karier berakhir di tempat yang sejak awal direncanakan. Ada yang memulai langkah sebagai pendidik, pengusaha, atau birokrat. Ada pula yang bertolak dari ruang redaksi—merekam berbagai peristiwa, menyusun fakta, dan menyampaikan informasi kepada publik. Dari ruang itulah perjalanan panjang Nanik Sudaryati Deyang bermula.
Selama puluhan tahun, Nanik dikenal sebagai jurnalis yang berkiprah di berbagai media nasional. Kariernya dimulai sebagai wartawan di Tabloid Bangkit di bawah naungan kelompok Kompas Gramedia, sebelum kemudian dipercaya memegang sejumlah posisi strategis di dunia media—mulai dari pemimpin redaksi hingga komisaris di perusahaan pers. Rekam jejak panjang tersebut membentuk ketajamannya dalam membaca persoalan sosial, ekonomi, dan politik dari dekat.
Perjalanan itu kemudian memasuki babak baru ketika ia mulai terlibat aktif dalam ruang kebijakan publik. Pada Pemilihan Presiden 2019, Nanik dipercaya bergabung dalam Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto–Sandiaga Uno sebagai Wakil Ketua.
Konsistensi dan jalinan komunikasinya dalam lingkaran politik tersebut terus berlanjut hingga kontestasi Pemilihan Presiden 2024, tempat Prabowo Subianto akhirnya mendapat mandat rakyat untuk memimpin bangsa.
Setelah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terbentuk, keterlibatannya dalam ruang kebijakan kian nyata. Ia dipercaya mengemban sejumlah amanah strategis, mulai dari Wakil Ketua I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), hingga Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Puncaknya pada Juni 2026, Presiden Prabowo menunjuknya untuk memimpin sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Dunia jurnalistik dan birokrasi memang bertolak belakang, namun keduanya menuntut modal yang sama: kemampuan memahami akar masalah, berkomunikasi lintas sektor, serta mengambil keputusan berbasis data.
Perjalanan ini membuktikan bagaimana pengalaman profesional mampu membawa seseorang pada ruang pengabdian yang berbeda. Dunia jurnalistik dan birokrasi memang bertolak belakang, namun keduanya menuntut modal yang sama: kemampuan memahami akar masalah, berkomunikasi lintas sektor, serta mengambil keputusan berbasis data yang akurat.
Sebelum memimpin BGN, Nanik telah lebih dahulu terjun ke lapangan. Sebagai Wakil Kepala BGN, ia berkali-kali meninjau langsung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah.
Inspeksi dilakukan guna memastikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memenuhi standar operasional. Jika ditemukan unit yang belum siap, langkah tegas penangguhan sementara diambil hingga perbaikan dilakukan.
Kini, sebagai Kepala BGN, amanah di pundaknya terbilang besar. Program Makan Bergizi Gratis adalah program strategis nasional yang menjangkau jutaan penerima manfaat.
Tantangannya bukan sekadar memperluas jangkauan, melainkan menjaga kualitas, keamanan pangan, tata kelola, dan harmonisasi antarstakeholder.
Rekam jejak dapat membuka jalan menuju sebuah amanah. Namun pada akhirnya, hasil kerja yang akan menentukan makna dari kepercayaan itu. Itulah perjalanan Nanik Sudaryati Deyang, dari ruang redaksi menuju meja kebijakan, maka waktu dan kerja nyata yang akan menjadi saksi bagaimana kepercayaan ini diwujudkan demi pelayanan terbaik bagi masyarakat.
📲 Ruang Perspektif
Menurut Anda, sejauh mana latar belakang seorang jurnalis memberi nilai tambah dalam mengawal program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG)? Atau Anda punya masukan terkait pelaksanaan program gizi di daerah Anda?
Mari bagikan sudut pandang, tanggapan, atau cerita Anda di kolom komentar media sosial Review It! Jangan lupa Like, Share, dan Follow/Subscribe agar tidak ketinggalan bedah isu menarik berikutnya.
🌐 Facebook Pro: @reviewit
📘 Fanpage Facebook: @reviewit
📸 Instagram: @reviewit
🧵 Threads: @reviewit





